Akar Perjuangan Tentara Pelajar Sumatera Bagian Selatan
Tenaga Pembangunan (TP) Sriwijaya didirikan pada tanggal 19 Agustus 1968 oleh eks-Tentara Pelajar/Pelajar Pejuang Sumatera Bagian Selatan. Setelah perang kemerdekaan I dan II (1945–1949) usai, para pejuang ini sepakat mengalihkan tugas dan fungsi organisasi mereka — dari perjuangan bersenjata menjadi kerja pembangunan — guna mengoordinasikan seluruh potensi yang dimiliki wilayah Sumatera Bagian Selatan bagi cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia.
Kini TP Sriwijaya tumbuh menjadi salah satu paguyuban kemasyarakatan terbesar di Indonesia, merangkul diaspora lima provinsi Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) — Sumatera Selatan, Lampung, Jambi, Bengkulu, dan Kepulauan Bangka Belitung — dengan basis populasi asal daerah sekitar 26,14 juta jiwa (BPS, semester II 2025) dan lebih dari satu juta perantau yang tersebar di wilayah Jabodetabek.
Di tingkat pusat, kepemimpinan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) TP Sriwijaya periode 2026–2031 dipegang oleh Sultan Baktiar Najamudin, Ketua DPD RI, yang ditetapkan secara aklamasi pada Musyawarah Besar (Mubes) XIII di Hotel Redtop, Jakarta Pusat, 27 Juni 2026 — menggantikan Dr. H. Sudirman D. Hury, S.H., M.H., M.M., M.Sc.
Di DKI Jakarta, Pengurus Daerah TP Sriwijaya menggelar Musyawarah Daerah (Musda) di Prodia Tower, Jakarta Pusat, pada 31 Mei 2026. Peserta Musda secara aklamasi menetapkan Eddy Mawardi, S.H., M.H. sebagai Ketua Pengurus Daerah DKI Jakarta periode 2026–2031, berdampingan dengan Srikandi TP Sriwijaya DKI Jakarta yang dipimpin oleh Helpi Novita, S.Hut. untuk periode yang sama.